Senin, 04 April 2011

Jakarta

Senin, 4 April 2011 (Unpublished) 

Oleh Erik Purnama Putra

Ketika mendengar kabar bahwa saya termasuk reporter yang bakal kena rolling untuk dipindah tugas ke Jakarta—dari sebelumnya di Surabaya—saya tidak merasakan sebuah kekhawatiran sama sekali harus merasakan kerasnya kehidupan di ibu kota. Malahan saya menyambutnya dengan penuh semangat. “Mumpung masih muda,” pikir saya.

Tibalah saat kepindahan. Saya berangkat menggunakan kereta Gajayana melalui Stasiun Kota Baru, Malang, tepat pukul 16.30, Rabu (30/3). Dalam perjalanan saya banyak menyimpan mimpi yang terus saya jaga dan ingin terwujud selama harus menjadi kuli di Jakarta.

Ketika kereta yang saya tumpangi sudah memasuki wilayah ibu kota, saya tidak memilih turun di Stasiun Gambir, Jakarta Pusat. Namun, meneruskan perjalanan ke Stasiun Kota atau yang dulu populer disebut Stasiun Beos, Jakarta Barat, sekitar pukul 08.20.

Jika melihat jarak dengan kantor Republika, Jalan Warung Buncit, Jakarta Selatan—tempat saya bekerja, harusnya saya memilih turun di Stasiun Gambir. Sebab, jaraknya lebih dekat dengan kantor. Tapi, saya putuskan untuk menikmati perjalanan sebab hari itu saya tidak langsung bekerja, meski siangnya tetap mengirim berita untuk menyuplai halaman Republika edisi Jawa Timur, yang saya tinggalkan.

Butuh waktu hampir sejam perjalanan menuju kantor menggunakan busway. Dari Stasiun Kota saya turun di halte Monas. Setelah menunggu sekitar 20 menit, busway datang dan seketika meluncur ke Warung Buncit, tempat di mana saya akan berkantor dalam jangka waktu yang saya sendiri tidak mengetahuinya.

Karena malam hari kantor mengadakan penganugerahan Tokoh Perubahan 2010, saya bersama rekan kantor yang baru saya kenal, usai Maghrib langsung meluncur ke Djakarta Theatre, Jalan MH Thamrin, dan datang sekitar pukul 19.00. Di hari pertama itu, saya bisa merasakan bahwa saya bekerja di sebuah koran besar yang memiliki pengaruh luar biasa.

Betapa tidak, hadir belasan menteri sebagai undangan dalam acara itu. Termasuki tiga menteri koordinator menyempatkan diri hadir. Belum lagi pejabat eksekutif, legislatif, dan yudikatif, serta tokoh pendidikan, ekonomi, hingga duta besar berbagai negara sahabat lainnya ikut datang. Hal itu menandakan bahwa posisi Republika di mata mereka memiliki tempat berarti.

Ketika rekan saya bertanya ke salah satu jajaran pimpinan redaksi mengapa tidak mengundang Presiden atau Wakil Presiden agar acaranya terlihat wah seperti yang dilakukan media cetak lain sebelumnya? Jawaban yang keluar sungguh mencengangkan. “Untuk mengundang dua orang itu minimal harus keluar Rp 200 juta untuk alokasi biaya pengamanan oleh Paspamres. Belum biaya lainnya. Belum lagi repotnya,” kata dia. “|Jadi mending seperti ini saya sudah meriah, banyak tokoh yang hadir,” imbuhnya.

Sebuah hal yang tidak saya dapatkan selama saya menjadi kuli di Surabaya. Jangankan mendapat keistimewaan. Yang menyedihkan banyak narasumber di Surabaya secara khusus, dan Jawa Timur secara umum, banyak yang tidak tahu apa itu Republika. Namun, ketika pindah ke Jakarta kondisinya berbalik 180 derajat.

Hari Jumat, 31 Desember 2011, dari kantor saya menumpang busway menuju Stasiun Kota dengan tujuan mengambil paketan sepeda motor yang sudah datang. Berangkatnya tidak ada masalah sebab tinggal menumpang doang. Baru setelah balik menggunakan sepeda motor dari Jakarta Pusat menuju Jakarta Selatan, saya harus tersesat cukup jauh akibat salah prediksi harus melalui jalan yang mana. Padahal sejak awal saya sudah menandai harus melewati jalan tertentu.

Tapi, lagi-lagi karena sistem jalan di ibu kota sangat rumit dan banyak persimpangan, maka saya mendapat pengalaman pertama dan berharga, tersesat di Jakarta! Setelah tanya-tanya kepada masyarakat di sepanjang jalan, akhirnya saya bisa menemukan jalan pulang menuju kantor. Alhamdulillah, kata saya.

Hari Sabtu dan Ahad, saya sudah beraktivitas secara normal. Saya harus ke Pejompongan dan Menteng, Jakarta Pusat. Untuk Sabtu, saya mendapat pertolongan dari rekan reporter seangkatan yang sedang libur. Sehingga dia menjadi semacam kompas, petunjuk jalan. Unyuk Ahad, karena saya sudah tahu daerah Menteng, jadi saya tidak terlalu kesulitan, meski sempat tersesat juga.

Mulai Senin, saya akan bertemu rekan-rekan baru di ibu kota. Karena tugas saya adalah harus ngepos di Balkot atau Balaikota, tempat Fauzi Bowo, Gubernur DKI Jakarta ngantor, maka setiap harinya saya harus mengkover Balkot, DPRD Jakarta, dan area Jakarta Pusat. Sebuha tugas menarik dan tidak saya sebut berat sama sekali. Hal ini merupakan tantangan tersendiri yang harus saya lakukan.

Memang secara pilihan lebih nyaman berada di Surabaya. Di samping sudah hafal jalan luar dalam sampai gang-gang tertentu, termasuk gang Dolly. Saya juga tahu agenda setiap yang bisa dijadikan berita sehingga tidak kerepotan dalam membuat berita, bahkan sampai menyimpan stok berita. Tapi, jelas dipindah ke Jakarta merupakan sebuah tantangan yang tidak boleh dilewatkan. “Mumpung masih mudah, ambil saja kesempatan itu,” saran teman-teman.

Hmmm, saya mengistilahkan diri saya sekarang sedang babad alas. Saya tidak kenal narasumber di sini dan untuk mencari berita masih harus ngekor wartawan senior yang sudah lama menetap di Balkot. Namun, yang saya rasakan saat ngepos di Balkot adalah kenyamanan. Karena sambutan hangat wartawan yang terlebih dulu berada di sini sangat asyik dan tidak pandang orang.

Karena itu, saya tetap optimis bahwa keadaan yang saya rasakan sekarang hanya berat di awal-awal. Jika sudah tahu ‘jalannya’ dengan sendirinya nanti semuanya akan mudah. Sebuah situasi sama yang saya rasakan di Surabaya saat akhir 2009 lalu, saat saya awal-awal menjadi kuli di sana. Yang seiring berjalannya waktu, ternyata saya bisa enjoy alias menikmati nguli di ibu kota Jawa Timur tersebut.

Last but not least, saya yakin dengan jalan ini akan dapat banyak pengalaman seru yang tidak saya dapatkan sebelumnya jika tetap menetap di Surabaya. Saya akan dapat teman baru dan bertemu teman lama yang terlebih dulu tinggal di ibu kota. Yang pasti, saya harus bisa menakhlukkan tantangan yang berada di depan. We can conquer the challange if optimistic. Dont be often complaint if we want to success in this life!

Sekian dulu cerita dari saya, kisah selanjutnya akan saya tulis di kesempatan yang akan datang. I will back to continue this story sooner or later.

0 comments: