Jumat, 11 Maret 2011

PNS

Sabtu, 12 Maret 2011 (Unpublished)

Oleh Erik Purnama Putra

Banyak orang bermimpi bisa menjadi pegawai negeri sipil (PNS) atau public servant. Tidak heran jika mayoritas warga pribumi tergila-gila mengharapkan bisa mewujudkan mimpinya menjadi PNS. Untuk melihat fakta antusiasme itu sangat mudah. Bisa diperhatikan saat pemerintah membuka pendaftaran calon pegawai negeri sipil (CPNS), yang beberapa tahun ini rutin dilakukan setiap tahun.

Pada saat itu, sebagian besar masyarakat yang masih memenuhi persyaratan administratif akan berlomba-lomba mendaftarkan diri dengan mengisi posisi PNS yang tersedia. Tapi, kebanyakan posisi PNS yang dibutuhkan pemerintah biasanya berbeda dengan keahlian si pelamar. Namun, karena bernafsu ingin menjadi PNS tidak sedikit yang mempermasalahkan hal itu.

Umpama posisi tenaga umum banyak dibutuhkan pemerintah, calon pelamar dari lulusan kampus berbagai jurusan akan mengambil peluang itu. Mereka tidak mempermasalahkan apakah pekerjaannya cocok atau tidak dengan latar belakang ilmu yang dikuasainya. Yang terpenting bagi mereka sebenarnya bukan posisi, melainkan status PNS itu yang dikejar.

Tidak heran banyak sarjana asyik memburu peluang menjadi PNS, meski berposisi sebagai staf umum. Alasannya mengincar PNS adalah hidupnya di masa tua akan termajin. Dengan standard gaji layak dan terus meningkat setiap tahunnya, serta bisa bolos kerja di hari kecepit membuat banyak pihak yang tergiur bekerja sebagai abdi negara. Kondisi yang tidak akan bisa didapatkan pekerja di sektor swasta.

Belum lagi jaminan uang pensiun dan resiko pemecatan kecil, ditambah anggapan kerjanya santai membuat orang berbondong-bondong mendaftarkan diri ikut tes perekrutan CPNS. Saking bersemangatnya mengejar status PNS, tidak sedikit orang yang hampir setiap tahun saban musim penerimaan tes CPNS selalu ikut. 

Meski sudah bekerja di sektor swasta dan memiliki segudang pengalaman, serta beberapa kali gagal dalam tes CPNS tetap saja mengincar posisi pekerjaan sebagai abdi negara tersebut. Fenomena lainnya adalah cukup banyak orang yang sudah bekerja, entah akibat dorongan orang tua, rayuan orang dekat, ajakan teman, atau sekedar ikut-ikutan, tergoda ikut tes perekrutan. Orang yang tahun lalu ikut tes CPNS, tapi gagal akan terus penasaran dan berulang kali ikut tes hingga akhirnya berhasil.

Atau yang bersangkutan akan berhenti jika umurnya sudah tidak memenuhi syarat administrasi. Karena saya yakin ada banyak sekali orang yang ikut tes CPNS sudah berkali-kali namun tidak jera juga. Kembali lagi saya nilai hal itu lebih disebabkan yang bersangkutan mengejar status.

Yang mengerikan, ada yang sampai harus mengeluarkan uang puluhan juta rupiah hanya demi mendapat posisi itu. Orang itu biasanya tergoda iming-iming seseorang yang berjanji sekaligus menjamin meloloskan kliennya menjadi PNS asal mau melunasi tarif biaya pengganti jalur cepat dengan nominal sebesar yang ditentukan.

Praktik semacam itu sudah menjadi rahasia umum di masyarakat sebab banyak peminatnya akibat cara pandang keliru masyarakat dalam memburu kerja. Banyak yang beranggapan begitu prestisiusnya menjadi PNS sehingga sampai berusaha untuk memilih jalur khusus penuh beresiko. Maksudnya resiko belum tentu diterima sebagai PNS, namun pasti keluar duit banyak.

Uniknya, banyak beredar cerita bahwa calon peserta malam hari menjelang pelaksanaan tes CPNS bukannya belajar, mereka malah mendatangi dukun meminta resep khusus agar dimudahkan dalam menjawab soal. Cara ini juga termasuk jalur pintas, namun tidak logis. Meski begitu orang yang melakukannya tidak bisa dibilang sedikit.

Melihat itu, intinya banyak orang akan melakukan berbagai cara agar keinginannya menjadi garda terdepan birokrasi dalam melayani masyarakat itu bisa direalisasikan. Alhasil peserta yang ikut tes CPNS banyak yang sekedar coba-coba dan tidak serius. Jika lolos sangat bersyukur, jika gagal juga tidak masalah.

Jika ditarik kesimpulan, motivasi orang menjadi PNS bukan mengabdikan diri kepada negara dan masyarakat. Melainkan lebih pada pemenuhan kepentingan diri sendiri. Sangat sedikit yang melamar sebagai PNS karena prihatin melihat buruknya pelayanan birokrasi kepada masyarakat di berbagai hal sehingga hatinya terpanggil untuk mengubah keadaan tersebut. Melihat realita itu saya sangat prihatin. 

Bukan bermaksud kelihatan sok di mata orang lain, namun miris melihat kondisi para calon abdi negara hanya mengejar ambisi pribadi. Sedikit yang punya misi mulai ingin mendedikasikan diri untuk melayani masyarakat jika jadi PNS.

Karena itu, sejak sekolah hingga kuliah saya tidak pernah terbayang dan berminat menjadi PNS. Bukan bermaksud merendahkan pekerjaan yang dibiayai negara ini, namun kenyataannya jarang sekali pelamar mendaftarkan diri disebabkan panggilan hati. Hal itu yang saya tidak suka.

Padahal kunci dunia kerja yang menjadi pembeda adalah panggilan hati. Jika sejak awal motivasi seseorang sudah keliru mengincar pekerjaan PNS, tidak heran budaya kerja di birokrasi terlihat santai. Meski aturan disiplin kerja sudah dibuat sedemikian rupa ketatnya, namun banyak yang acuh dan dengan entengnya melanggar. Kasus yang umum terjadi adalah razia yang berhasil menjaring PNS yang kedapatan di mal saat jam kerja.

Sebenarnya semua pekerjaan itu sama asal dilakukan sesuai dengan panggilan hati, bukan semata status. Tapi, lagi-lagi karena mindset orang pribumi masih menganggap PNS sebagai sektor menjanjikan maka hingga kapanpun orang akan berduyun-duyun mendaftar ikut tes CPNS meski rasio peluang diterima sangat kecil.

Jika begini, tidak salah jika saya sebut pengincar posisi PNS sebagai kaum oportunis!

0 comments: