Selasa, 15 Maret 2011

Mimpi

Rabu, 16 Maret 2011 (Unpublished)
 
Oleh Erik Purnama Putra

Semua orang pasti punya mimpi. Mimpi setiap orang pasti berbeda-beda. Meski begitu, jika ditarik kesimpulan mimpi-mimpi yang terangkai itu akan berujung pada satu muara. Yakni, target untuk mendapatkan sebuah kondisi atau situasi tentang diri yang lebih baik daripada sebelumnya. Karena itu, tidak salah bukan jika ada seseorang yang bermimpi untuk menjadi presiden?.

Meski terkesan tidak mungkin—sebab peluangnya 1 banding 240 juta—namun hal itu lebih berarti daripada tidak bermimpi sama sekali. Satu yang perlu ditegaskan, jika punya mimpi lebih baik sekalian tinggi sekali sehingga jika tidak mampu merealisasikannya bisa direvisi atau diturunkan targetnya sampai bisa tergapai.

Logikanya begini. Jika mimpi menjadi presiden tidak tercapai, bisa diturunkan menjadi menteri. Jika pun tak terwujud bisa direvisi menjadi gubernur. Masih gagal lagi? Kita bisa mengincar posisi bupati/wali kota. Andai tidak mampu menggapainya, ya jangan malu-malu untuk bisa merebut jabatan camat, atau kepala desa.

Penjelasan jabatan di atas hanya analogi untuk menunjukkan bahwa lebih baik mimpi setinggi langit daripada hanya punya mimpi tanggung akibat kita sendiri yang membatasinya. Apalagi tidak ada yang melarang maka jauh lebih bagus jika mimpi itu dilambungkan asal masih dalam jangkauan kita.

Dengan memiliki mimpi kita bisa punya target yang harus diwujudkan. Hal itu bisa menjadi motivasi penggerak agar seseorang bekerja keras, cerdas, dan ikhlas untuk menapaki segala hambatan hingga mampu menggapainya. Pasalnya, mimpi itu memiliki kekuatan yang akan mendekatkan diri kita kepada kenyataan.

Jika gagal, anggap saja itu keberhasilan yang tertunda agar kita tidak berkecil hati dan punya alasan untuk di kesempatan berikutnya dapat mengambil pelajaran berharga dari kegagalan sebelumnya. Yang penting jangan pernah takut untuk bermimpi dan mencoba mewujudkannya.

Martin Luther King (1929–1968) pernah menggelorakan penduduk Amerika Serikat dengan pidatonya yang terkenal, “I Have a Dream”. Peraih Nobel Perdamaian tahun 1960 ini dalam hidupnya selalu memperjuangkan hak-hak warga kulit hitam yang terampas akibat dominasi warga kulit putih.

Berkat perjuangannya menyebarkan mimpi-mimpinya—meski telah meninggal—namanya terus dikenang hingga kini. Sebab, mimpinya telah menjadi roh yang menciptakan kedamaian di seantero Negeri Paman Sam. Karena berkat mimpinya tidak ada lagi diskriminasi berdasarkan warna kulit.

Kisah Laskar Pelangi juga bisa jadi sumber inspirasi. Di tengah segala keterbatasan ternyata para murid-murid dari keluarga kelas bawah itu mampu menjadi pejuang akibat terus memelihara mimpi-mimpinya. Mereka menjadikan mimpi sebagai jembatan untuk mengubah nasib hidupnya yang berkutat di dalam lingkaran kemiskinan.

Tidak pernah lelah berteman dengan mimpi akhirnya pada suatu ketika membuahkan hasil. Salah satu murid dalam Laskar Pelangi berhasil meraih beasiswa pendidikan di Sorbonne University Paris, Prancis. Dia tidak lain adalah Andrea Hirata, penulis sekaligus tokoh utama dalam novel Laskar Pelangi. Atas pengalamannya itu Andrea Hirata menyeru kepada generasi muda untuk jangan takut bermimpi.

Sayangnya, melihat realita di lapangan masih sedikit orang yang bermimpi besar. Banyak orang yang tidak pede membicarakan mimpi-mimpinya sebab akan dianggap sebagai khayalan semata. Bahkan tidak sedikit orang akan apatis duluan jika mimpi terlalu tinggi. “Muluk-muluk,” kata sebagian orang.

Hal itu jelas ironis, mengingat belakangan ini berkembang wacana bahwa generasi muda harus memiliki mimpi-mimpi yang itu mempunyai nilai positif bagi perkembangan diri seseorang. Karena dengan mimpi terbukti seseorang hidupnya bisa lebih bertenaga dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

Masalah infeorior dan mental inlander—meminjam bahasa Amien Rais—sudah memasuki segenap relung jiwa masyarakat. Sifat yang seharusnya tidak memiliki gen itu malah bisa turun-temurun seolah beranak-pinak hingga membuat banyak orang takut bermimpi. Mengecewakan tentunya. Untuk bermimpi saja mereka tidak berani. Apalagi jika harus berkompetisi dengan banyak orang di dunia nyata.

Saya sendiri punya banyak mimpi yang belum terwujud, meski sebagian yang lain sudah tercapai. Namun, saya tidak patah arang dan terus memelihara mimpi-mimpi agar hidup ini tidak membosankan dan berjalan stagnan.

Jika pun mimpi yang saya dambakan itu tidak terwujud saya tidak akan mengalami kerugian sedikit pun. Malahan, pengalaman kegagalan yang saya dapat itu bisa saya bagikan kepada orang lain agar tahu bagaimana cara mengatasi hambatan yang datang. Sehingga jika ada kesempatan lebih baik maka orang lain itu bisa mewujudkan mimpinya.

Dengan begitu, hidup bisa lebih berwarna dan tidak monoton. Karena saya punya keyakinan orang yang punya mimpi tidak akan memikirkan dirinya sendiri. Ia senantiasa akan berbagi dengan orang lain, meski dengan berbagai cara yang sukar dimengerti dan ditebak.

Saya juga punya keyakinan bangsa yang kuat dan maju terbentuk jika rakyatnya memiliki mimpi-mimpi dahsyat sebagai modal pembangunan. Karakter masyarakat petarung dan kompetitif hanya lahir dari lingkungan yang penuh mimpi. Karena itu, saya sarankan agar kita terus memelihara mimpi-mimpi dalam diri. Jangan sekali-kali meniup lilin yang senantiasa menerangi setiap mimpi itu.

Yang jadi catatan adalah kita jangan hanya terus bermimpi tanpa mengambil tindakan. Kita juga jangan terus dibuai mimpi. Rumit bukan? Tapi, kita harus bangun dulu untuk bertindak agar mimpi itu semakin mendekati kenyataan.

Jika semua prosedur sudah dijalankan dan hasilnya kurang menggembirakan, kita anggap saja hal itu sebagai ketidakberuntungan yang tidak perlu diratapi. Tuhan akan selalu membukakan jalan bagi setiap pemeluk-Nya yang giat berusaha.

0 comments: