Selasa, 22 Maret 2011

Pendidikan

Selasa, 22 Maret 2011 (Unpublished)

Oleh Erik Purnama Putra

Cukup mudah mencari penyebab mengapa Indonesia belum bisa sejajar, bahkan relatif tertinggal dibanding negara maju, seperti Eropa, Amerika Serikat, Jepang, maupun Singapura. Penyebab utamanya tidak lain adalah masalah pendidikan.

Tolok ukur pendidikan di sini saya kerucutkan kepada persoalan jumlah masyarakat yang mengenyam atau sedang menempuh pendidikan hingga jenjang perguruan tinggi. Saya memang tidak memakai data penelitian dari lembaga manapun untuk menemukan jumlah persentase angka partisipasi pendidikan (APP) secara pasti.

Namun, keyakinan masih kecilnya APP di Indonesia mudah dilihat dengan mata telanjang di kehidupan masyarakat. Coba dihitung berapa angka remaja yang kuliah di suatu kawasan tertentu? Tentu tidak banyak.

Bagaimana dengan di perkotaan? Setali tiga uang. Memang banyak remaja yang kuliah sebab para orang tua di sana pasti melek pendidikan dan relatif berkecukupan secara ekonomi. Namun, secara kualitas dibandingkan dengan jumlah pendudukan perkotaan di kawasan tersebut tentu yang kuliah angkanya tidak seberapa.

Di sinilah letak masalah sekaligus tantangan yang harus dicarikan solusi. Pasalnya, pendidikan belum dianggap sebagai cara untuk mengubah nasib seseorang di masa depan. Masyarakat masih enggan mengeluarkan duit untuk dana pendidikan bagi anaknya.

Akibat pola didikan itu, tidak sedikit anak yang orientasinya lebih memilih bekerja untuk mencari uang daripada menuntut ilmu. Memang untuk jangka pendek bekerja merupakan solusi. Sebab, dalam tempo singkat sudah bisa menghasilkan duit sendiri.

Sementara, remaja yang memilih kuliah masih meminta subsidi ke orang tuanya dan belum mandiri.  Namun, di situlah letak kesalahan banyak orang dalam menilai pendidikan.

Banyak orang tua menganggap pendidikan sebagai beban. Mereka berpandangan sempit dengan mengatakan pendidikan, apalagi jenjang perguruan tinggi itu selalu identik dengan menghamburkan duit.

Karena itu, tidak sedikit remaja yang bercita-cita tinggi ingin merasakan bangku kuliah akhirnya kandas. Itu akibat tidak mendapat dukungan dari orang tuanya.

Sebagai ilustrasi, meski tidak mencerminkan gambaran mayoritas orang tua setidaknya pengalaman saya ini bisa mengungkapkan posisi pendidikan di mata orang tua. Pernah suatu ketika ada orang tua yang merasa berat menyekolahkan anaknya yang tercatat di bangku kelas XII SMA swasta.

Yang bersangkutan sering mengeluh akibat seringnya sang anak meminta pembayaran tetek bengek yang berkaitan dengan biaya berbagai kegiatan sekolah, mulai praktikum maupun kegiatan kesenian.

Mungkin karena jengkel atau memang berwawasan sempit, yang bersangkutan menghitung biaya yang sudah dikeluarkan untuk membiayai anaknya selama hampir tiga tahun sekolah. Dari hitung-hitungan kasar di dapatlah angka belasan juta rupiah.

Entah sedang khilaf atau tidak sadar ia membandingkan bahwa biaya pendidikan yang dikeluarkannya demi pendidikan anaknya itu sama dengan harga sepeda motor bebek produk Jepang. Intinya orang tersebut dari penuturannya yang saya tangkap kurang bisa mengikhlaskan biaya untuk sekolah anaknya.

Hal itu jelas memiriskan. Pasalnya, masih sering dijumpai orang tua yang tidak memiliki wawasan ke depan untuk membukakan masa depan cerah bagi anaknya. Mereka tidak mau melakukan investasi melalui pendidikan agar anaknya tidak mengalami nasib seperti yang menimpanya sekarang.

Namun, boro-boro memiliki semangat itu. Para orang tua itulah yang mengandaskan dan menghancurkan mimpi-mimpi yang dirajut anaknya yang ingin menikmati bangku perkuliahan. Sekali lagi, alasan mereka enggan memfasilitasi pendidikan bagi anaknya adalah alasan berat di ongkos jika harus menguliahkan. Sementara ekonominya pas-pasan.

Hal itu jelas lucu. Mengingat, saat ini, banyak orang tua yang mampu membeli sepeda motor—meskipun itu hasil kredit. Namun, mereka kurang atau tepatnya tidak peduli dengan pendidikan anaknya. Ketidakpedulian itu disebabkan merasa berat jika harus membiayai perkualiahan yang dianggap mahal.

Belum lagi banyak di antara mereka yang dari golongan keluarga menengah ke bawah itu adalah ahli hisab. Sang bapak setiap hari terus mengepulkan asap dari mulutnya tanpa bisa menghentikan aktivitas merokok.

Ia pun rela dan secara tidak sadar terus mengeluarkan uang untuk membeli sigaret demi memperoleh kepuasan dari membakar tembakau. Di sisi lain, uang yang seharusnya bisa ditabung demi pendidikan sang anak malah dinikmatinya sendiri. Egois bukan?

Di situlah letak kejanggalan para orang tua di masyarakat kita. Tidak sedikit dari mereka yang berat banget mengeluarkan dana untuk pendidikan anaknya. Namun, mereka dengan enteng membeli roko demi memuaskan keinginannya.

Jika itu yang terjadi, dapat diprediksi jika nasib sang anak tidak akan berbeda jauh dari orang tuanya. Malahan, di masa akan datang dia bisa lebih berat dalam menjalani hidup. Sebab, harus menanggung beban berat bagi diri sendiri maupun orang tuanya.

Karena dengan tingkat pendidikan rendah—kecuali jadi wirausaha—sangat mungkin pekerjaan yang didapat pasti bukan pekerjaan yang memerlukan otak. Dengan kata lain, pekerjaannya tidak jauh dengan aktivitas yang menggunakan otot. Misal, buruh maupun pekerja rendahan bagi yang laki-laki.

Jika pun bernasib baik itu tidak lebih karena kebulatan tekad untuk tidak menyerah oleh keadaan akibat digembosi orang tuanya yang tidak peduli dengan pendidikan. Namun, jumlah orang model ini hanya segelintir saja. Itupun masih membutuhkan kemujuran dalam mengarungi samudera kehidupan.

Karena itu, saya harap pemerintah dan masyarakat yang peduli terhadap pendidikan harus mau menyadarkan orang tua model begitu. Tugas itu memang sulit, namun sangat memerlukan upaya bersama agar tertanam di alam bawah sadar bersama bahwa pendidikan itu penting.

Kita harus menyontoh para orang tua di Jepang yang sangat mengutamakan pendidikan bagi anaknya. Jika itu dapat dilakukan kebangkitan dan kejayaan Indonesia tinggal menunggu waktu saja. Karena bangsa yang maju dan kuat lahir dari masyarakat yang berpendidikan.

0 comments: