Selasa, 06 Oktober 2009

Mengupayakan Asuransi Dicintai Masyarakat

Senin, 28 September 2009 (Asuransi: Antara Citra dan Realitas)

INDONESIA dikenal sebagai negara dengan jumlah kecelakaan di jalan raya terbesar di dunia. Sayangnya, mayoritas korban kecelakaan tidak mempunyai asuransi jiwa bagi dirinya bersama keluarga, sehingga dampaknya membuat repot anggota keluarga lainnya. Karena biaya perawatan bagi yang terluka hingga tewas menjadi tanggungjawab orang terdekat, bukannya perusahaan asuransi.

Memasyarakatkan Asuransi
Ilustrasi di atas adalah contoh tak terbantahkan terkait minimnya kesadaran masyarakat Indonesia untuk memanfaatkan produk asuransi yang ditawarkan berbagai perusahaan asuransi. Tak hanya asuransi kecelakaan, asuransi lainnya, seperti kesehatan dan pekerjaan masih sangat sedikit yang memanfaatkannya. Akibatnya, jika terjadi peristiwa tak diinginkan maka seseorang seperti mengalami pepatah, sudah jatuh tertimpa tangga pula.

Namun, kondisi itu tak akan terjadi jika masyarakat mau melirik produk asuransi terkait resiko yang kemungkinan besar bisa menimpanya. Memang sebagai manusia tidak ada seorang pun yang mengharapkan musibah buruk menimpa dirinya. Tetapi, dengan mengantisipasi semuanya sejak dini dan mempersiapkan segala kemungkinan terburuk adalah merupakan tindakan bijak yang tak hanya menguntungkan diri sendiri, juga orang lain di sekitar kita.

Sayangnya, saat ini akibat kurangnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat menjadi pengguna asuransi. Hal itu masih ditambah kurang gencarnya sosialiasi berupa edukasi tentang berbagai manfaat yang didapat jika memanfaatkan produk asuransi tertentu oleh perusahaan asuransi, sehingga membuat asuransi belum dijamah untuk dijadikan kebutuhan hidup masyarakat modern.

Di satu sisi, masyarakat kebingungan mencari produk asuransi yang ditawarkan sebab belum sepenuhnya mengerti dan yakin tentang manfaatnya, yang membuat masyarakat enggan menggunakan asuransi demi kebaikannya sendiri maupun keluarga. Di sisi lain, perusahaan asuransi kesulitan menggaet konsumen yang mau untuk memanfaatkan berbagai asuransi yang ditawarkannya, sebab banyak informasi yang tidak sampai ke masyarakat secara utuh.

Dampaknya sangat mengkhawatirkan sebab di saat pangsa pasar perbankan mampu menyerap 35 persen jumlah penduduk pada 2008. Sementara, asuransi baru menyentuh angka 3 persen –di luar Jamsostek. Dari situ kita bisa melihat tantangan berat yang dihadapi perusahaan asuransi dalam upayanya untuk menggaet masyarakat agar mau melirik produk asuransi yang dipandang ekslusif.

Idealnya
Di tengah belum populernya asuransi di kalangan masyarakat Indonesia, sudah semestinya perusahaan asuransi mau menyelesaikan berbagai persoalan yang menyangkut citranya yang dinilai kurang baik agar dapat menggaet konsumen semaksimal mungkin.

Karena saat ini, banyak masyarakat yang akhirnya enggan untuk menjadi pengguna asuransi dengan alasan mulai sekedar malas mengurus proses administrasi dengan berbagai syarat yang dianggap merepotkan dan menyita waktu, hingga proses pengajuan klaim yang dianggap cukup sulit.

Ingat, masyarakat kita mudah sekali terjebak pada kepercayaan dari mulut ke mulut. Maka itu, menjaga kepuasaan konsumen dan tidak menciderai berbagai kesepakatan yang telah dibuat di awal wajib di kedepankan. Di luar itu, gencar melakukan sosialisasi dan edukasi tentang manfaat produk asuransi harus dijalankan agar masyarakat semakin melek asuransi.

*Erik Purnama Putra, Mahasiswa Psikologi Unmuh Malang
Email: erikeyikumm@yahoo.co.id
Nomor Induk Mahasiswa: 05810139
CP: 0856 4977 3675
Alamat: Gedung SC Lt. 1 Bestari UMM, Jl. Raya Tlogomas No. 246 Malang

0 comments: